Jumat, 16 Juli 2010

Potret Kelam Akademisi Indonesia

Tulisan ini adalh karya teman baik saya "Agung Tri" yang secara langsung adalah pengingat, sekaligus penggugah untuk rasa syukur atas pendidikan saya saat ini.. semoga bermanfaat:

Catatan ini saya tulis ketika pagi tadi saya melihat berita padi di sebuah stasiun televisi. Dan hanya ketakutan yang semakin membuat aku menulis sebuah catatan ini. Semoga hal ini tidak terulang untuk kedua kalinya.

Di sebuah daerah Jakarta, pagi itu diberitakan seorang bocah kecil bernama Basyir berusia 11 tahun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di tempat yang disebut markasnya. Markasnya hanyalah sebuah kotak kecil dengan dinding kayu dan beberapa mainan kotor dan lusuh yang sering menemaninya. Dan disitu terlihat sebuah pemandangan yang sangat jarang kita temui di waktu-waktu seperti sekarang ini. Sebuah kain dwiwarna berkibar dan melenggang dengan indah disana. Itulah bendera Negara kita, Bendera Merah Putih. Dan Sang Saka Merah Putih itu menjadi saksi bisu kejadian menyedihkan itu.

Ketika tahu apa yang menyebabkan sang bocah mengakhiri hidupnya, membuat aku sedikit miris. Dia mengakhiri hidupnya hanya karena tidak dapat meneruskan pendidikannya di Sekolah Dasar. Bunuh diri dan mengakhiri hidup memang perbuatan yang salah dan dari sisi manapun tidak akan bisa dibenarkan. Namun jika seorang anak sekecil itu mengakhiri hidupnya, siapakah yang patut disalahkan. Tidak mungkin kita menyalahkan anak kecil itu. Orang tuanya mungkin patut kita salahkan. Dan jika kita tahu keadaan orang tuanya, kita tidak akan tega untuk menyalahkannya. Negarakah yang harus kita salahkan. Selalu kambing hitam dari setiap masalah yang dihadapi. Betapa tidak dewasanya kita jika memang kita menyalahkan Negara kita yang sudah dan semakin porak poranda ini. Seharusnya kita bisa berkaca dari diri kita sendiri. Sudahkah kita memperhatikan Negara kita, orang-orang sekitar kita dan juga adik-adik kita.

Saat memasang Bendera Merah Putih di markasnya, Sang bocah ingin berkata bahwa cukup hanya dirinya yang mengalami nasib seperti ini. Tidak perlu ada lagi Basyir-Basyir yang lain di Negara ini. Dan dia ingin mengucapkan salam terakhir dan hormatnya kepada Sang Saka Merah Putih. Sang Bocah ingin meninggalkan bumi pertiwi ini dengan selimut birunya langit Indonesia dan dibawah kibaran serta kemilau warna Sang Dwi Warna. Dan berharap Bumi Pertiwi menerima dirinya.

Terkutuklah bagi aku atau kita atau siapapun yang sudah diberikan anugerah dan karunia yang sangat berharga oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa menikmati dan mengenyam pendidikan bahkan sampai ke tingkat tertinggi jenjang pendidikan namun tanpa adanya keseriusan dan menyiakannya.

SELAMAT TINGGAL,BASYIR.

1 komentar:

  1. Bingung mau komen...
    Komentar disini aja..
    rajin2 nulis njih, semangat !!!

    BalasHapus