Tulisan ini adalh karya teman baik saya "Agung Tri" yang secara langsung adalah pengingat, sekaligus penggugah untuk rasa syukur atas pendidikan saya saat ini.. semoga bermanfaat:
Catatan ini saya tulis ketika pagi tadi saya melihat berita padi di sebuah stasiun televisi. Dan hanya ketakutan yang semakin membuat aku menulis sebuah catatan ini. Semoga hal ini tidak terulang untuk kedua kalinya.
Di sebuah daerah Jakarta, pagi itu diberitakan seorang bocah kecil bernama Basyir berusia 11 tahun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di tempat yang disebut markasnya. Markasnya hanyalah sebuah kotak kecil dengan dinding kayu dan beberapa mainan kotor dan lusuh yang sering menemaninya. Dan disitu terlihat sebuah pemandangan yang sangat jarang kita temui di waktu-waktu seperti sekarang ini. Sebuah kain dwiwarna berkibar dan melenggang dengan indah disana. Itulah bendera Negara kita, Bendera Merah Putih. Dan Sang Saka Merah Putih itu menjadi saksi bisu kejadian menyedihkan itu.
Ketika tahu apa yang menyebabkan sang bocah mengakhiri hidupnya, membuat aku sedikit miris. Dia mengakhiri hidupnya hanya karena tidak dapat meneruskan pendidikannya di Sekolah Dasar. Bunuh diri dan mengakhiri hidup memang perbuatan yang salah dan dari sisi manapun tidak akan bisa dibenarkan. Namun jika seorang anak sekecil itu mengakhiri hidupnya, siapakah yang patut disalahkan. Tidak mungkin kita menyalahkan anak kecil itu. Orang tuanya mungkin patut kita salahkan. Dan jika kita tahu keadaan orang tuanya, kita tidak akan tega untuk menyalahkannya. Negarakah yang harus kita salahkan. Selalu kambing hitam dari setiap masalah yang dihadapi. Betapa tidak dewasanya kita jika memang kita menyalahkan Negara kita yang sudah dan semakin porak poranda ini. Seharusnya kita bisa berkaca dari diri kita sendiri. Sudahkah kita memperhatikan Negara kita, orang-orang sekitar kita dan juga adik-adik kita.
Saat memasang Bendera Merah Putih di markasnya, Sang bocah ingin berkata bahwa cukup hanya dirinya yang mengalami nasib seperti ini. Tidak perlu ada lagi Basyir-Basyir yang lain di Negara ini. Dan dia ingin mengucapkan salam terakhir dan hormatnya kepada Sang Saka Merah Putih. Sang Bocah ingin meninggalkan bumi pertiwi ini dengan selimut birunya langit Indonesia dan dibawah kibaran serta kemilau warna Sang Dwi Warna. Dan berharap Bumi Pertiwi menerima dirinya.
Terkutuklah bagi aku atau kita atau siapapun yang sudah diberikan anugerah dan karunia yang sangat berharga oleh Sang Maha Kuasa untuk bisa menikmati dan mengenyam pendidikan bahkan sampai ke tingkat tertinggi jenjang pendidikan namun tanpa adanya keseriusan dan menyiakannya.
SELAMAT TINGGAL,BASYIR.
Live is very worth while...Just Run and Chase your dream without doubt,,,
Jumat, 16 Juli 2010
Rabu, 14 Juli 2010
Sajak – sajak sang Penyair
Sajak – sajak sang Penyair...
Kapan hari kubaca hidup ini
begitu gamblang kau menunjukannya
dengan pemilihan diksi-diksi kehidupanmu
Memang mahir benar kau mempermainkan kata
Layaknya Sang penyair yang tiap kali menggoreskan guratan pena
Guratan yang terkadang kau sendiri tak tahu apa
sekedar hanya menuliskannya seperti berteriak saja
tapi entah mengapa aku terpikat dengan segala tulisanmu
Lanyaknya sang penyair yang tiap kali menghindar dari keramaian
Yang entah mengapa, sangat suka sekali kau melakukannya
Apakah hanya sekedar untuk melamun
tapi entah mengapa aku sangat ingin duduk bersamamu di kala itu
tapi memang susah benar kubaca
Semua sajak kehidupan yang kau buat
Semua sajak kehidupan yang kau nikmati
Dan tanpa kusadari, sajak – sajak ku sendiri telah selesai
Lalu kau berkata..
“Kaulah penyair kehidupanmu..”
“Setiap kata yang kau rangkai adalah Langkahmu”
“Tak perduli akan bagaimana kau akhiri sajakmu”
“Yang pasti rangkailah kata-katamu layaknya sajak-sajak Sang Penyair”
Kapan hari kubaca hidup ini
begitu gamblang kau menunjukannya
dengan pemilihan diksi-diksi kehidupanmu
Memang mahir benar kau mempermainkan kata
Layaknya Sang penyair yang tiap kali menggoreskan guratan pena
Guratan yang terkadang kau sendiri tak tahu apa
sekedar hanya menuliskannya seperti berteriak saja
tapi entah mengapa aku terpikat dengan segala tulisanmu
Lanyaknya sang penyair yang tiap kali menghindar dari keramaian
Yang entah mengapa, sangat suka sekali kau melakukannya
Apakah hanya sekedar untuk melamun
tapi entah mengapa aku sangat ingin duduk bersamamu di kala itu
tapi memang susah benar kubaca
Semua sajak kehidupan yang kau buat
Semua sajak kehidupan yang kau nikmati
Dan tanpa kusadari, sajak – sajak ku sendiri telah selesai
Lalu kau berkata..
“Kaulah penyair kehidupanmu..”
“Setiap kata yang kau rangkai adalah Langkahmu”
“Tak perduli akan bagaimana kau akhiri sajakmu”
“Yang pasti rangkailah kata-katamu layaknya sajak-sajak Sang Penyair”
Aku Ingin
setelah beberapa waktu mecari puisi karya Bpk. Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono ini, akhirnya kutemukan juga pas jam 23.00,,,hufh, pencarian yang tidak sia-sia..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
PEMBUATAN EKSTRAK DAN TEPUNG RENNET UNTUK INDUSTRI KEJU
PEMBUATAN EKSTRAK DAN TEPUNG RENNET
UNTUK INDUSTRI KEJU
Ir. Sutrisno Koswara
Keju merupakan salah satu hasil olahan susu yang telah dikenal masyarakat, kebutuhan keju sampai sekarang terus dari impor yang harganya relatif mahal. Harga keju masak sekitar Rp. 10.000 – 15.000 rupiah per kg, dibandingkan harga eceran susu bubuk impor yaitu Rp. 3.000 – 4.000 per kg. Meskipun mahal, jumlah pemakaian keju olah masyarakat cukup besar, baik untuk komponen bahan campuran dalam pembuatan kue, maupun sebagai teman makan roti. Juga impor keju terus meningkat sebesar rata-rata 5.96% per tahun.
Untuk memenuhi kebutuhan keju dalam negeri dan mengurangi impor, industri keju masih perlu ditingkatkan. Pembuatan keju dapat dilakukan baik dalam skala industri maupun rumah tangga.
Salah satu bahan penolong yang penting dan perlu disiapkan dalam pembuatan keju ialah bahan penggumpal kasein (protein dalam susu sebagai bahan keju). Sampai sekarang bahan penggumpal susu yang paling ideal ialah enzim rennin. Bahan ini dapat diperoleh dalam bentuk ekstrak rennet maupun bubuk/tepung, yang dapat dibuat secara sederhana dari bahan abomasum (lambung ke 4) anak sapi yang masih menyusui atau ternak ruminansia muda lainnya.
Enzim-enzim dalam Rennet
Rennet ialah ekstrak abomasum anak sapi yang belum disapih atau mamalia lainnya, sedangkan rennin adalah enzim yang terdapat dalam rennet. Rennin termasuk enzim protease asam , yaitu enzim yang mempunyai sisi aktif pada dua gugus karboksil. Disamping terdapat rennin, dalam rennet juga terkandung enzim protease lain yaitu pepsin. Renin juga jauh lebih baik dalam menggumpalkan kasein susu dibanding dengan kasein.
Ekstrak rennet dari abomasum anak sapi yang masih menyusu mengandung 88 – 94 % rennin dan 6 – 12 % pepsin, sedangkan ekstrak abomasum sapi yang lebih tua dan tidak menyusu lagi mengandung 90 – 94 % pepsin dan hanya 6 – 10 % rennin.
Rennet hasil ekstraksi abomasum anak sapi mempunyai aktivitas maksimum pada pH 6.2 – 6.4. Rennin stabil pada pH 5.3 – 6.3 dan pada pH 2 kestabilannya sangat rendah, sedangkan pepsin stabil pada pH 5 – 5.5 dan aktif pada pH 1 – 4. Ekstrak rennet sebaiknya disimpan pada pH 5.6 – 5.8 untuk menjaga kestabilan enzim rennin dan pepsin. Ekstrak rennet yang disimpan pada suhu 5oC aktivitas koagulasinya turun 0.5 % selama sebulan, sedangkan pada suhu 25oC aktivitasnya turun 1 – 2 % selama sebulan.
1
Pembuatan Ekstrak Rennet
Sebelum diekstraksi, abomasum segar dibelah, dihilangkan lemak dan isinya, dicuci bersih, kemudian dikeringkan. Untuk memudahkan larutan enzim, ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan garam (NaCl). Tetapi penggunaan-penggunaan larutan NaCl yang terlalu pekat dapat berakibat menurunkan aktivitas enzim yang dihasilkan.
Untuk mengaktifkan enzim, pH dan keasaman larutan pengakstrak dibuat mendekati pH isi perut abomasum ruminansia yaitu sekitar 3. Dalam hal ini rekomendasi yang dianjurkan oleh Dairy Training Research Institute di Los Banos, Philipina adalah menggunakan larutan asam asetat 1 % dan NaCl 5 – 7 % untuk memperoleh ekstrak rennet abomasum ruminansia.
Secara sederhana ekstraksi rennet dapat dilakukan sebagai berikut : abomasum dibelah, dihilangkan lemak dan isinya, lalu dicuci bersih. Ekstraksi dapat dilakukan terhadap abomasum segar maupun yang sudah dikeringkan. Untuk abomasum segar, setelah dicuci langsung dipotong kecil-kecil ukuran 1 x 2 cm, sedangkan abomasum kering dibuat dengan cara menjemur sampai kering kemudian dipotong-potong dengan ukuran 1 x 2 cm. Abomasum segar atau kering kemudian direndam dalam larutan pengekstrak yang dibuat dengan melarutkan 5 gram NaCl ke dalam 100 ml asam asetat 1 persen. Lama ekstraksi perendaman adalah 5 hari untuk abomasum segar dan 9 hari untuk abomasum kering. Larutan hasil perendaman disaring dan hasilnya disebut ekstrak rennet.
Di beberapa negara, lambung domba atau kambing juga digunakan untuk memproduksi rennet. Ekstraksi dari lambung dilakukan dengan larutan asam asetat (asam cuka) 10 %. Caranya dengan merendam 100 gram lambung segar dalam 500 ml asam asetat selama 24 jam pada suhu kamar, sebanyak 5 kali berturut-turut. Hasil ekstraksi tersebut digabungkan, disaring kembali dan dipekatkan sampai mencapai volume 20 ml.
Pembuatan Tepung Rennet
Pembuatan bubuk atau tepung rennet secara garis besarnya terdiri dari persiapan bahan baku, pembuatan enstrak rennet, pengendapan dan pengeringan endapan rennet.
Bahan baku yang digunakan sebagai bahan rennet adalah perut ke empat atau abomasum anak sapi jantan. Abomasum setelah dipotong dari bagian perut lainnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik dan disimpan dalam freezer selama seminggu sebelum digunakan. Cara pembuatannya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Abomasum beku dicairkan dengan cara merendam dalam air pada suhu ruang. Setelah mencair, abomasum dibelah membujur dan lapisan mukosanya dipisahkan dari jaringan dinding luarnya (muscular wall).
2. Mukosa kemudian dicincang dengan pisau sampai ukuran sekecil mungkin, lalu dimasukkan ke dalam gelas piala 1 liter yang telah diisi dengan larutan asam asetat 10 % dengan perbandingan mukosa : asam asetat = 1 : 2. Untuk mempercepat ekstraksi, campuran asam asetat dan mukosa diaduk selama 24 jam pada suhu ruang.
2
3. Setelah proses ekstraksi berjalan selama 24 jam, dilakukan pemisahan ampas dari larutan hasil ekstraksi dengan cara sentrifusa (pemusingan) pada kecepatan 2750 putaran per menit selama 15 menit. Endapan dipisahkan dari filtrat (bagian cairan) dengan cara menuangkan cairan pada wadah gelas.
4. Endapan dari hasil ekstraksi selanjutnya diekstraksi lagi dengan cara yang sama dengan ekstraksi pertama. Filtrat atau cairan hasil ekstraksi kemudian dikumpulkan dan dinetralkan dengan cara menambahkan NaOH 1 N sampai pH menjadi 5.4. Penambahan NaOH dilakukan sedikit demi sedikit dan selama penambahan dilakukan pengadukan.
5. Larutan rennet kemudian di endapkan dengan cara menambahkan larutan garam amonium sulfat jenuh. Perbandingan volume larutan rennet dengan aminium sulfat jenuh ditentukan berdasarkan hasil percobaan. Endapan yang terjadi kemudian dipisahkan secara sentrifusa pada kecepatan 5.000 putaran per menit selama 15 menit.
6. Endapan rennet kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 40 – 50oC. pengeringan dilakukan sampai kadar air 5 %.
Aplikasi dalam Pembuatan Keju
Keju dibuat dengan cara koagulasi (penggumpalan) kasein susu membentuk dadih atau curd. Dadih susu kemudian dipanaskan dan dipres sehingga menghasilkan dadih keras, yang kemudian dilakukan pemeraman atau pematangan keju. Disamping menggunakan rennet, penggumpalan kasein dapat juga dilakukan dengan fermentasi bakteri asam laktat.
Campuran koagulan (larutan penggumpal) dari enzim pepsin dan rennin mulai digunakan sejalan dengan perkembangan produksi susu dan sukarnya memperoleh rennet anak sapi. Waktu penggumpalan susu dengan menggunakan pepsin lebih lama dibandingkan dengan menggunakan rennet.
Bila rennet ditambahkan pada susu dalam jumlah yang cukup, kecepatan koagulasi maksimum terjadi pada suhu 40 – 42oC. Koagulasi tidak terjadi pada suhu di bawah 10oC atau di atas 60oC. Penggumpalan kasein paling baik dilakukan pada suhu yang bertepatan dengan terjadinya koagulasi maksimum. Dalam keadaan asam, pembentukan koagulum makin cepat dan mutunya makin baik. Keasaman berpengaruh terhadap kestabilan kasein baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara membebaskan ion kalsium yang terlarut dan membentuk koloid senyawa kompleks.
Pepsin babi baik digunakan dalam pembuatan keju chedder, tetapi waktu yang diperlukan lebih lama dan kualitas serta flavor keju yang dihasilkan kurang baik dibandingkan dengan keju yang menggunakan rennet anak sapi. Penggunaan pepsin ayam menghasilkan keju cheddar dengan bentuk yang tidak baik dengan flavor yang lemah dan sering terjadi penyimpangan bau dan rasa.
3
Di Mesir, pepsin kelinci digunakan untuk menghasilkan sejenis keju yang disebut “domiati”, tetapi sering terjadi penyimpangan cita rasa juga. Keju yang dibuat dengan pepsin domba mempunyai kualitas dan cita rasa yang hampir sama dengan yang dibuat menggunakan rennet anak sapi. Sedangkan keju yang dibuat dengan campuran rennet anak sapi dan pepsin kelinci menimbulkan rasa pahit selama pemeraman.
Disamping menggunakan hewan, bebrapa galur mikroba dapat menghasilkan enzim sejenis rennet yang dapat digunakan untuk membuat keju. Tetapi rennet mikroba ini sering menghasilkan rasa pahit pada keju yang diperam. Beberapa mikroba yang dapat menghasilkan enzim sejenis rennet adalah : Mucor meichei, M. pusillus, Edothia parasitica dan Bracillus subtilis.
oo00oo
4
UNTUK INDUSTRI KEJU
Ir. Sutrisno Koswara
Keju merupakan salah satu hasil olahan susu yang telah dikenal masyarakat, kebutuhan keju sampai sekarang terus dari impor yang harganya relatif mahal. Harga keju masak sekitar Rp. 10.000 – 15.000 rupiah per kg, dibandingkan harga eceran susu bubuk impor yaitu Rp. 3.000 – 4.000 per kg. Meskipun mahal, jumlah pemakaian keju olah masyarakat cukup besar, baik untuk komponen bahan campuran dalam pembuatan kue, maupun sebagai teman makan roti. Juga impor keju terus meningkat sebesar rata-rata 5.96% per tahun.
Untuk memenuhi kebutuhan keju dalam negeri dan mengurangi impor, industri keju masih perlu ditingkatkan. Pembuatan keju dapat dilakukan baik dalam skala industri maupun rumah tangga.
Salah satu bahan penolong yang penting dan perlu disiapkan dalam pembuatan keju ialah bahan penggumpal kasein (protein dalam susu sebagai bahan keju). Sampai sekarang bahan penggumpal susu yang paling ideal ialah enzim rennin. Bahan ini dapat diperoleh dalam bentuk ekstrak rennet maupun bubuk/tepung, yang dapat dibuat secara sederhana dari bahan abomasum (lambung ke 4) anak sapi yang masih menyusui atau ternak ruminansia muda lainnya.
Enzim-enzim dalam Rennet
Rennet ialah ekstrak abomasum anak sapi yang belum disapih atau mamalia lainnya, sedangkan rennin adalah enzim yang terdapat dalam rennet. Rennin termasuk enzim protease asam , yaitu enzim yang mempunyai sisi aktif pada dua gugus karboksil. Disamping terdapat rennin, dalam rennet juga terkandung enzim protease lain yaitu pepsin. Renin juga jauh lebih baik dalam menggumpalkan kasein susu dibanding dengan kasein.
Ekstrak rennet dari abomasum anak sapi yang masih menyusu mengandung 88 – 94 % rennin dan 6 – 12 % pepsin, sedangkan ekstrak abomasum sapi yang lebih tua dan tidak menyusu lagi mengandung 90 – 94 % pepsin dan hanya 6 – 10 % rennin.
Rennet hasil ekstraksi abomasum anak sapi mempunyai aktivitas maksimum pada pH 6.2 – 6.4. Rennin stabil pada pH 5.3 – 6.3 dan pada pH 2 kestabilannya sangat rendah, sedangkan pepsin stabil pada pH 5 – 5.5 dan aktif pada pH 1 – 4. Ekstrak rennet sebaiknya disimpan pada pH 5.6 – 5.8 untuk menjaga kestabilan enzim rennin dan pepsin. Ekstrak rennet yang disimpan pada suhu 5oC aktivitas koagulasinya turun 0.5 % selama sebulan, sedangkan pada suhu 25oC aktivitasnya turun 1 – 2 % selama sebulan.
1
Pembuatan Ekstrak Rennet
Sebelum diekstraksi, abomasum segar dibelah, dihilangkan lemak dan isinya, dicuci bersih, kemudian dikeringkan. Untuk memudahkan larutan enzim, ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan garam (NaCl). Tetapi penggunaan-penggunaan larutan NaCl yang terlalu pekat dapat berakibat menurunkan aktivitas enzim yang dihasilkan.
Untuk mengaktifkan enzim, pH dan keasaman larutan pengakstrak dibuat mendekati pH isi perut abomasum ruminansia yaitu sekitar 3. Dalam hal ini rekomendasi yang dianjurkan oleh Dairy Training Research Institute di Los Banos, Philipina adalah menggunakan larutan asam asetat 1 % dan NaCl 5 – 7 % untuk memperoleh ekstrak rennet abomasum ruminansia.
Secara sederhana ekstraksi rennet dapat dilakukan sebagai berikut : abomasum dibelah, dihilangkan lemak dan isinya, lalu dicuci bersih. Ekstraksi dapat dilakukan terhadap abomasum segar maupun yang sudah dikeringkan. Untuk abomasum segar, setelah dicuci langsung dipotong kecil-kecil ukuran 1 x 2 cm, sedangkan abomasum kering dibuat dengan cara menjemur sampai kering kemudian dipotong-potong dengan ukuran 1 x 2 cm. Abomasum segar atau kering kemudian direndam dalam larutan pengekstrak yang dibuat dengan melarutkan 5 gram NaCl ke dalam 100 ml asam asetat 1 persen. Lama ekstraksi perendaman adalah 5 hari untuk abomasum segar dan 9 hari untuk abomasum kering. Larutan hasil perendaman disaring dan hasilnya disebut ekstrak rennet.
Di beberapa negara, lambung domba atau kambing juga digunakan untuk memproduksi rennet. Ekstraksi dari lambung dilakukan dengan larutan asam asetat (asam cuka) 10 %. Caranya dengan merendam 100 gram lambung segar dalam 500 ml asam asetat selama 24 jam pada suhu kamar, sebanyak 5 kali berturut-turut. Hasil ekstraksi tersebut digabungkan, disaring kembali dan dipekatkan sampai mencapai volume 20 ml.
Pembuatan Tepung Rennet
Pembuatan bubuk atau tepung rennet secara garis besarnya terdiri dari persiapan bahan baku, pembuatan enstrak rennet, pengendapan dan pengeringan endapan rennet.
Bahan baku yang digunakan sebagai bahan rennet adalah perut ke empat atau abomasum anak sapi jantan. Abomasum setelah dipotong dari bagian perut lainnya, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik dan disimpan dalam freezer selama seminggu sebelum digunakan. Cara pembuatannya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Abomasum beku dicairkan dengan cara merendam dalam air pada suhu ruang. Setelah mencair, abomasum dibelah membujur dan lapisan mukosanya dipisahkan dari jaringan dinding luarnya (muscular wall).
2. Mukosa kemudian dicincang dengan pisau sampai ukuran sekecil mungkin, lalu dimasukkan ke dalam gelas piala 1 liter yang telah diisi dengan larutan asam asetat 10 % dengan perbandingan mukosa : asam asetat = 1 : 2. Untuk mempercepat ekstraksi, campuran asam asetat dan mukosa diaduk selama 24 jam pada suhu ruang.
2
3. Setelah proses ekstraksi berjalan selama 24 jam, dilakukan pemisahan ampas dari larutan hasil ekstraksi dengan cara sentrifusa (pemusingan) pada kecepatan 2750 putaran per menit selama 15 menit. Endapan dipisahkan dari filtrat (bagian cairan) dengan cara menuangkan cairan pada wadah gelas.
4. Endapan dari hasil ekstraksi selanjutnya diekstraksi lagi dengan cara yang sama dengan ekstraksi pertama. Filtrat atau cairan hasil ekstraksi kemudian dikumpulkan dan dinetralkan dengan cara menambahkan NaOH 1 N sampai pH menjadi 5.4. Penambahan NaOH dilakukan sedikit demi sedikit dan selama penambahan dilakukan pengadukan.
5. Larutan rennet kemudian di endapkan dengan cara menambahkan larutan garam amonium sulfat jenuh. Perbandingan volume larutan rennet dengan aminium sulfat jenuh ditentukan berdasarkan hasil percobaan. Endapan yang terjadi kemudian dipisahkan secara sentrifusa pada kecepatan 5.000 putaran per menit selama 15 menit.
6. Endapan rennet kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 40 – 50oC. pengeringan dilakukan sampai kadar air 5 %.
Aplikasi dalam Pembuatan Keju
Keju dibuat dengan cara koagulasi (penggumpalan) kasein susu membentuk dadih atau curd. Dadih susu kemudian dipanaskan dan dipres sehingga menghasilkan dadih keras, yang kemudian dilakukan pemeraman atau pematangan keju. Disamping menggunakan rennet, penggumpalan kasein dapat juga dilakukan dengan fermentasi bakteri asam laktat.
Campuran koagulan (larutan penggumpal) dari enzim pepsin dan rennin mulai digunakan sejalan dengan perkembangan produksi susu dan sukarnya memperoleh rennet anak sapi. Waktu penggumpalan susu dengan menggunakan pepsin lebih lama dibandingkan dengan menggunakan rennet.
Bila rennet ditambahkan pada susu dalam jumlah yang cukup, kecepatan koagulasi maksimum terjadi pada suhu 40 – 42oC. Koagulasi tidak terjadi pada suhu di bawah 10oC atau di atas 60oC. Penggumpalan kasein paling baik dilakukan pada suhu yang bertepatan dengan terjadinya koagulasi maksimum. Dalam keadaan asam, pembentukan koagulum makin cepat dan mutunya makin baik. Keasaman berpengaruh terhadap kestabilan kasein baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara membebaskan ion kalsium yang terlarut dan membentuk koloid senyawa kompleks.
Pepsin babi baik digunakan dalam pembuatan keju chedder, tetapi waktu yang diperlukan lebih lama dan kualitas serta flavor keju yang dihasilkan kurang baik dibandingkan dengan keju yang menggunakan rennet anak sapi. Penggunaan pepsin ayam menghasilkan keju cheddar dengan bentuk yang tidak baik dengan flavor yang lemah dan sering terjadi penyimpangan bau dan rasa.
3
Di Mesir, pepsin kelinci digunakan untuk menghasilkan sejenis keju yang disebut “domiati”, tetapi sering terjadi penyimpangan cita rasa juga. Keju yang dibuat dengan pepsin domba mempunyai kualitas dan cita rasa yang hampir sama dengan yang dibuat menggunakan rennet anak sapi. Sedangkan keju yang dibuat dengan campuran rennet anak sapi dan pepsin kelinci menimbulkan rasa pahit selama pemeraman.
Disamping menggunakan hewan, bebrapa galur mikroba dapat menghasilkan enzim sejenis rennet yang dapat digunakan untuk membuat keju. Tetapi rennet mikroba ini sering menghasilkan rasa pahit pada keju yang diperam. Beberapa mikroba yang dapat menghasilkan enzim sejenis rennet adalah : Mucor meichei, M. pusillus, Edothia parasitica dan Bracillus subtilis.
oo00oo
4
Mengapa harus Dia yang Solehah
Wanita, makhluk Tuhan yang paling mulia, dikaruniai sebuah rahim untuk mengandung, diberi kekuatan untuk melahirkan, memiliki rasa kasih sayang yang lebih untuk merawat dan membesarkan anak-anaknya. Tugas yang sangat berat dan tentunya tidak seorangpun pria yang mampu melakukannya. Karena itu, tidak salahlah surga itu berada ditelapak kaki wanita, khususnya ibu..
Menyinggung mengenai pernyataan mario teguh di status twitternya...
“Wanita yang pas untuk teman, pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”
Mengapa harus wanita?
1. Seorang pria pasti sangat menginginkan kelak memiliki istri yang sholeh, penurut, mampu mendidik dan membesarkan anak-anaknya, mampu menerima keadaan suami, dan juga mampu melayani suami dengan baik, namun pada intinya, pria menginginkan wanita yang sholehah.
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
dari sabda Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan, bahwa pria yang memilih wanita, dan wanita dipilih terutama karena agamanya.
2. Kodrat pria adalah memilih, sedangkan wanita memutuskan.
Ya memang, itulah kodrat, pria mencari, memilih, dan menikahi wanita yang dinginkannya, sedang kan wanita dipilih, memutuskan, dan dinikahi oleh pria yang meminangnya.
“Wanita jika ingin dipilih, jadilah wanita baik (sholehah), bagaimana seorang wanita akan dipilih jika pria tidak menyukai sifat dan watak wanita tersebut dan bagaimana wanita akan memutuskan jika tidak ada yang memilihnya.”
3. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga)” (Qs. An Nuur (24) : 26)
Pertanyaannya, siapa yang harusnya lebih dulu baik, atau siapa harusnya lebih baik.?Kalau pria pasti jawabnya, "ya wanita lah", sedangkan jawaban wanita, "ya pria lah", kalau udah dpertemukan pria vs. Wanita untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasti akan terjadi perdebatan yang tiada habisnya..Hoho
kalau logikanya, kembali lagi ke kodrat pria dan wanita, pria pasti mencari dan memilih wanita baik untuk menjadi pendamping hidupnya, sesuai yang dperintahkan di dalam Alquran.nah...Yang bisa mendapatkan wanita baik, pastilah lelaki baik juga, sebab apa? tentunya hanya lelaki baik yang mengetahui bagaimana mencari wanita baik.
4. Saya pernah mendengar sebuah pernyataan, “Sukses atau tidaknya sebuah rumah tangga, berada ditangan wanita”. Beberapa contoh untuk membuktikan pernyataan diatas,
a. Wanita sebagai pengatur kuangan dalam rumah tangga, besar pun gaji seorang suami, jika istri tidak bisa mengelolanya dengan baik,maka msa dpan rumah tangga tidak akan terjamin. Mungkin pria dapat sangat baik dalam karirnya menjadi manager keuangan dalam suatu perusahaan, namun hanya wanita yang bisa sangat hebat menjadi manager keuangan dalam sebuah keluarga.
b. Wanita sebagai pendidik dan penjaga anak-anaknya, "anak adalah amanah dari Allah, suatu saat kita (orang tua) akan dimintai pertanggungjawabannya". Ya, itu salah satu alasan mengapa perlu pendidik (wanita) yang baik untuk menghasilkan didikan yang baik, anak yang baik, sholeh keuntungannya kembali sebagai kuntungan orang tua, namun ada alasan lainnya yang tidak kalah penting, “Apabila anak adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.” (Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Ahmad & Nasaai). Bagaimana kita (sebagai orang tua) bisa masuk surga kalau kita kehilangan 1 perkara "anak yang sholeh", sedangkan 2 perkara lain kita juga belum jelas. Lagi-lagi, hanya wanita yang memiliki kasih sayang, dan kesabaran yang lebih dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya dibanding pria.
c. Wanita sebagai motivator suami memenuhi kewajiban sebagai suami, mencari nafkah memang sulit di jaman sekarang ini, lelah, letih, penat, namun jika sepulang bekerja dan sesampai dirumah seorang suami disambut dengan senyuman manis istrinya, disuguhkan minum, disiapkan makanannya, pasti obat yang sangat mujarab bagi suami, suami akan semakin giat mencari nafkah untuk keluarganya, tidak bisa dipungkiri dibalik kesuksesan seorang pria ada wanita hebat nan sholehah.
d. Contoh lain, mungkin banyak yang mengetahui cerita dalam majalah hidayah, yang dibuat atau diangkat berdasarkan cerita atau kisah nyata. perhatikan, ceritanya tidak jauh dari pria yang senang dengan kehidupan dunia seperti mabuk, berjudi, bermain wanita, melakukan tindak kriminal dan kerap berlaku kasar kepada istrinya, tetapi ia memiliki istri yang sholehah, yang drumah kerjaannya sembahyang dan mengaji (kayak si-doel anak sekolahan), mendoakan suaminya agar sadar dan bertaubat, akhir dari cerita tersebut, suami bertaubat dan kmbali ke jalan yang benar, dari cerita tersebut, terbukti kasih sayang dan doa wanita, dapat mengubah segalanya
5. Beberapa alasan lain mengapa harus menjadi wanita baik-baik;
a. Rasulullah pernah ditanya tentang wanita yang paling baik, beliau menjawab, “(wanita) yang menyenangkan apabila dipandang (suami), taat jika diperintah, dan tidak menyelisihnya terhadap apa yang ia benci pada dirinya dan hartanya.”
b. “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki yaitu istri shalihah yg bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (sabda Rasulullah SAW)
c. “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan yaitu wanita yg shalihah tempat tinggal yg luas/ lapang tetangga yg shalih dan tunggangan yg nyaman. Dan empat perkara yg merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yg jelek istri yg jelek kendaraan yg tdk nyaman dan tempat tinggal yg sempit.” (sabda Rasulullah SAW)
d. “Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
e. “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
Pernyataan dari mario teguh tersebut tidaklah salah, ia mengeluarkan pernyataan pastilah telah diperhitungkan dan memiliki dasarnya, yaitu teori dan fakt-fakta yang ada bagaimana pria memilih wanita sebagai pendamping hidup.
Wanita dengan perilaku dan hobi yang disebut kan Mario Teguh memang bisa menjadi lebih baik, tapi pola pikir wanita itu sendiri yang dapat mengubahnya, sedangkan mengubah pola pikir adalah sesuatu yang sangat sulit.
Lebih baik hindari perbuatan-perbuatan yang dapat menyulitkan di masa depan, daripada harus memperbaiki masa depan atas kesalahan masa lalu dan menyesal kemudian.
Menyinggung mengenai pernyataan mario teguh di status twitternya...
“Wanita yang pas untuk teman, pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”
Mengapa harus wanita?
1. Seorang pria pasti sangat menginginkan kelak memiliki istri yang sholeh, penurut, mampu mendidik dan membesarkan anak-anaknya, mampu menerima keadaan suami, dan juga mampu melayani suami dengan baik, namun pada intinya, pria menginginkan wanita yang sholehah.
“Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda : Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama” (HR. Muslim dan Tirmidzi)
dari sabda Rasulullah SAW tersebut dapat disimpulkan, bahwa pria yang memilih wanita, dan wanita dipilih terutama karena agamanya.
2. Kodrat pria adalah memilih, sedangkan wanita memutuskan.
Ya memang, itulah kodrat, pria mencari, memilih, dan menikahi wanita yang dinginkannya, sedang kan wanita dipilih, memutuskan, dan dinikahi oleh pria yang meminangnya.
“Wanita jika ingin dipilih, jadilah wanita baik (sholehah), bagaimana seorang wanita akan dipilih jika pria tidak menyukai sifat dan watak wanita tersebut dan bagaimana wanita akan memutuskan jika tidak ada yang memilihnya.”
3. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga)” (Qs. An Nuur (24) : 26)
Pertanyaannya, siapa yang harusnya lebih dulu baik, atau siapa harusnya lebih baik.?Kalau pria pasti jawabnya, "ya wanita lah", sedangkan jawaban wanita, "ya pria lah", kalau udah dpertemukan pria vs. Wanita untuk menjawab pertanyaan tersebut, pasti akan terjadi perdebatan yang tiada habisnya..Hoho
kalau logikanya, kembali lagi ke kodrat pria dan wanita, pria pasti mencari dan memilih wanita baik untuk menjadi pendamping hidupnya, sesuai yang dperintahkan di dalam Alquran.nah...Yang bisa mendapatkan wanita baik, pastilah lelaki baik juga, sebab apa? tentunya hanya lelaki baik yang mengetahui bagaimana mencari wanita baik.
4. Saya pernah mendengar sebuah pernyataan, “Sukses atau tidaknya sebuah rumah tangga, berada ditangan wanita”. Beberapa contoh untuk membuktikan pernyataan diatas,
a. Wanita sebagai pengatur kuangan dalam rumah tangga, besar pun gaji seorang suami, jika istri tidak bisa mengelolanya dengan baik,maka msa dpan rumah tangga tidak akan terjamin. Mungkin pria dapat sangat baik dalam karirnya menjadi manager keuangan dalam suatu perusahaan, namun hanya wanita yang bisa sangat hebat menjadi manager keuangan dalam sebuah keluarga.
b. Wanita sebagai pendidik dan penjaga anak-anaknya, "anak adalah amanah dari Allah, suatu saat kita (orang tua) akan dimintai pertanggungjawabannya". Ya, itu salah satu alasan mengapa perlu pendidik (wanita) yang baik untuk menghasilkan didikan yang baik, anak yang baik, sholeh keuntungannya kembali sebagai kuntungan orang tua, namun ada alasan lainnya yang tidak kalah penting, “Apabila anak adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.” (Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Ahmad & Nasaai). Bagaimana kita (sebagai orang tua) bisa masuk surga kalau kita kehilangan 1 perkara "anak yang sholeh", sedangkan 2 perkara lain kita juga belum jelas. Lagi-lagi, hanya wanita yang memiliki kasih sayang, dan kesabaran yang lebih dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya dibanding pria.
c. Wanita sebagai motivator suami memenuhi kewajiban sebagai suami, mencari nafkah memang sulit di jaman sekarang ini, lelah, letih, penat, namun jika sepulang bekerja dan sesampai dirumah seorang suami disambut dengan senyuman manis istrinya, disuguhkan minum, disiapkan makanannya, pasti obat yang sangat mujarab bagi suami, suami akan semakin giat mencari nafkah untuk keluarganya, tidak bisa dipungkiri dibalik kesuksesan seorang pria ada wanita hebat nan sholehah.
d. Contoh lain, mungkin banyak yang mengetahui cerita dalam majalah hidayah, yang dibuat atau diangkat berdasarkan cerita atau kisah nyata. perhatikan, ceritanya tidak jauh dari pria yang senang dengan kehidupan dunia seperti mabuk, berjudi, bermain wanita, melakukan tindak kriminal dan kerap berlaku kasar kepada istrinya, tetapi ia memiliki istri yang sholehah, yang drumah kerjaannya sembahyang dan mengaji (kayak si-doel anak sekolahan), mendoakan suaminya agar sadar dan bertaubat, akhir dari cerita tersebut, suami bertaubat dan kmbali ke jalan yang benar, dari cerita tersebut, terbukti kasih sayang dan doa wanita, dapat mengubah segalanya
5. Beberapa alasan lain mengapa harus menjadi wanita baik-baik;
a. Rasulullah pernah ditanya tentang wanita yang paling baik, beliau menjawab, “(wanita) yang menyenangkan apabila dipandang (suami), taat jika diperintah, dan tidak menyelisihnya terhadap apa yang ia benci pada dirinya dan hartanya.”
b. “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki yaitu istri shalihah yg bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (sabda Rasulullah SAW)
c. “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan yaitu wanita yg shalihah tempat tinggal yg luas/ lapang tetangga yg shalih dan tunggangan yg nyaman. Dan empat perkara yg merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yg jelek istri yg jelek kendaraan yg tdk nyaman dan tempat tinggal yg sempit.” (sabda Rasulullah SAW)
d. “Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)
e. “Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR. Ibnu Majah)
Pernyataan dari mario teguh tersebut tidaklah salah, ia mengeluarkan pernyataan pastilah telah diperhitungkan dan memiliki dasarnya, yaitu teori dan fakt-fakta yang ada bagaimana pria memilih wanita sebagai pendamping hidup.
Wanita dengan perilaku dan hobi yang disebut kan Mario Teguh memang bisa menjadi lebih baik, tapi pola pikir wanita itu sendiri yang dapat mengubahnya, sedangkan mengubah pola pikir adalah sesuatu yang sangat sulit.
Lebih baik hindari perbuatan-perbuatan yang dapat menyulitkan di masa depan, daripada harus memperbaiki masa depan atas kesalahan masa lalu dan menyesal kemudian.
Jumat, 09 Juli 2010
Isra' Miraj,,,makna perjalanan Khayal yang Nyata
Isra’ lazim dimaknai sebagai perjalanan Rasulullah di waktu malam dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha. Makna tersebut merupakan makna historis yang statis, padahal sebuah istilah itu bersifat open source, artinya ia selalu terbuka untuk ditelaah lebih jauh dari berbagai perspektif. Setiap istilah tentu muncul dari konteks sosio-kultural tertentu lalu mendapat sentuhan wahyu. Seiring dengan perkembangan zaman, agar sebuah istilah itu tetap hidup dan kontekstual, ia perlu dimaknai ulang (revitalisasi) tanpa menghilangkan elan vital dari makna asalnya. Perkembangan disiplin ilmu linguistik yang variatif dewasa ini cukup membantu penelaahan terhadap sebuah istilah.
Demikian halnya dengan kata isra’, kalau ditelaah dari aspek morfologis, ia berasal dari kata kerja transitif: asra – yusri – isra-an (artinya menjalankan seseorang di waktu malam) yang merupakan derivasi dari kata kerja intransitif: saraa – yasri – sirayatan (artinya berjalan di waktu malam). Tinjauan morfologis tersebut bila dikaitkan dengan potongan ayat 1 surat al-Isra’; “… Asra bi ‘abdihi lailan …”, kita mendapatkan pelajaran yang berharga. Manusia (‘abd) adalah obyek dari segala kehendak Tuhan, termasuk Dialah yang menjalankan manusia (isra’) ke arah tertentu sesuai kehendak-Nya di waktu malam (lail). Kata ‘malam’ identik dengan kegelapan, kebodohan, ketidaktahuan manusia akan apa yang bakal terjadi kemudian. Alhasil, semua yang melekat pada diri manusia hakikatnya adalah manifestasi dari iradah Allah. Nasib manusia senantiasa berada dalam genggaman-Nya. Hidup ini penuh dengan misteri dan manusia hanya bisa menyingkap gejala-gejala alam inderawi saja. Selebihnya, manusia hanya bisa pasrah dan mendekat pada Allah SWT.
Bencana alam datang silih berganti di negeri kita ini, jangankan untuk menghindarkannya, memprediksi dan mengantisipasinya pun manusia tak berdaya. Bencana apa lagi yang akan dihadapi bangsa Indonesia, tak seorangpun tahu. Jadi, konsep isra’ menyadarkan manusia akan posisinya sebagai hamba yang lemah. Kesombongan, keangkuhan hanya milik Allah jua. Pemahaman akan hakikat isra’ ini akan membawa manusia pada sifat tawaddlu’, tawakkal, sabar, dan selalu waspada.
Sedangkan kata mi’raj berasal dari ‘araja yang berarti naik. Dalam al-Qur’an sebenarnya tidak ditemukan kata mi’raj atau derivasinya yang mengacu pada perjalanan Nabi dari baitul maqdis ke sidratul muntaha. Yang ada hanyalah informasi di surat an-Najm ayat 14; “’inda sidratil muntaha’ (Nabi berada di “pohon penghujung” di langit ke tujuh dekat ‘arsy dan surga ma’wa)”. Kendatipun demikian pemilihan kata mi’raj lebih tepat daripada pada kata arab yang lain seperti mish’ad (naik dengan tangga), mirqat (naik melewati tanjakan).
Kata “naik”, sering dikaitkan dengan hal-hal yang prestisius seperti derajat, jabatan, dan tahta. Semua itu dapat diraih tentu dengan perjuangan panjang dan jerih payah ekstra, bukan datang secara instan tanpa sebab. Di sinilah, Islam mengajarkan manusia agar selalu bekerja keras, bahkan rasul dan nabipun tidak ada yang gratis mendapatkan predikat kerasulan dan kenabian. Berbagai ujian menghadang untuk meruntuhkan misi yang dibawanya, ujian yang datang bertubi-tubi mereka lawan dengan keteguhan dan kesabaran, akhirnya sukses.
Demikian juga seorang muslim yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah, dia mesti melalui proses panjang berliku, untuk menundukkan hawa nafsu dan mengabdi pada perintah, seperti menegakkan shalat. Rasululullah mengintrodusir shalat sebagai “mi’raj al-mukmin” (perjalanan spiritual mukmin menuju Tuhan). Shalat hanyalah salah satu entry point menuju tatanan hidup yang tenteram dan berujung pada ridla Allah (baldah thayyibah wa rabbun ghafur). Dengan shalat manusia diharapkan mampu meredam nafsu hewaniah dan iblisiyah serta lebih mengedepankan naluriah dan nalariah, saat berinteraksi dengan sesama manusia agar tidak ada lagi kemungkaran, korupsi, kekerasan, penggunaan narkoba. Hubungan antara shalat dengan amar ma’ruf nahi munkar adalah hubungan sinergis bukan kausalitas. Tidak ada jaminan orang yang shalat, tidak melakukan kekerasan, sama halnya tidak jaminan orang yang menunaikan ibadah, bebas dari korupsi. Fungsi shalat sebatas memberikan trigger (pemicu) untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, orang yang sudah punya modal kebaikan lewat shalat harus berkomitmen kembali melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara dinamis dan berkesinambungan.
Di samping ada hikmah yang bisa digali dari kajian morfologis isra’ mi’raj, kita juga bisa belajar dari rahasia urutan kata isra yang diikuti mi’raj. Seyogyanya manusia mendahulukan aspek horizontal (hablum min annas) lalu aspek vertikal (hablum min allah). Dalam fenomena keseharian, banyak dijumpai orang yang lebih menekankan mi’raj (hubungan vertikal dengan Tuhan) dengan melakukan banyak ibadah sampai pada batas ekstrim, sementara tuntutan isra’ (hubungan horizontal dengan sesama manusia) belum terpenuhi. Akibatnya, kekerasan yang dilakukan oknum pemeluk umat beragama tidak jarang justru dijadikan pretensi sebagai sebuah kesalehan dan tingginya kualitas iman, adapun keramahan dan ke-rahmah-an (kasih sayang) sesama makhluk tuhan, nyaris terabaikan.
Agama pada prinsipnya menuntut keseimbangan antara kesalahan sosial dengan kesalehan individual guna merealisasikan sukses dunia dan akherat. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan Jalalaluddin Rakhmat (1991) menyimpulkan bahwa kesalehan sosial harus lebih diprioritaskan, dengan alasan: (1) dalam al-Qur’an dan As-Sunnah proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial, (2) dalam kenyataannya bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, (3) ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan, dan (4) bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, maka kafarat nya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Saatnya semangat isra’ mi’raj menggelinding layaknya bola salju membawa energi maha dahsyat guna menyapu habis ketidakadilan, korupsi, kekerasan, kemusrikan, otoritarian, hipokrit, sehingga bangsa Indonesia cepat bangkit menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.
Demikian halnya dengan kata isra’, kalau ditelaah dari aspek morfologis, ia berasal dari kata kerja transitif: asra – yusri – isra-an (artinya menjalankan seseorang di waktu malam) yang merupakan derivasi dari kata kerja intransitif: saraa – yasri – sirayatan (artinya berjalan di waktu malam). Tinjauan morfologis tersebut bila dikaitkan dengan potongan ayat 1 surat al-Isra’; “… Asra bi ‘abdihi lailan …”, kita mendapatkan pelajaran yang berharga. Manusia (‘abd) adalah obyek dari segala kehendak Tuhan, termasuk Dialah yang menjalankan manusia (isra’) ke arah tertentu sesuai kehendak-Nya di waktu malam (lail). Kata ‘malam’ identik dengan kegelapan, kebodohan, ketidaktahuan manusia akan apa yang bakal terjadi kemudian. Alhasil, semua yang melekat pada diri manusia hakikatnya adalah manifestasi dari iradah Allah. Nasib manusia senantiasa berada dalam genggaman-Nya. Hidup ini penuh dengan misteri dan manusia hanya bisa menyingkap gejala-gejala alam inderawi saja. Selebihnya, manusia hanya bisa pasrah dan mendekat pada Allah SWT.
Bencana alam datang silih berganti di negeri kita ini, jangankan untuk menghindarkannya, memprediksi dan mengantisipasinya pun manusia tak berdaya. Bencana apa lagi yang akan dihadapi bangsa Indonesia, tak seorangpun tahu. Jadi, konsep isra’ menyadarkan manusia akan posisinya sebagai hamba yang lemah. Kesombongan, keangkuhan hanya milik Allah jua. Pemahaman akan hakikat isra’ ini akan membawa manusia pada sifat tawaddlu’, tawakkal, sabar, dan selalu waspada.
Sedangkan kata mi’raj berasal dari ‘araja yang berarti naik. Dalam al-Qur’an sebenarnya tidak ditemukan kata mi’raj atau derivasinya yang mengacu pada perjalanan Nabi dari baitul maqdis ke sidratul muntaha. Yang ada hanyalah informasi di surat an-Najm ayat 14; “’inda sidratil muntaha’ (Nabi berada di “pohon penghujung” di langit ke tujuh dekat ‘arsy dan surga ma’wa)”. Kendatipun demikian pemilihan kata mi’raj lebih tepat daripada pada kata arab yang lain seperti mish’ad (naik dengan tangga), mirqat (naik melewati tanjakan).
Kata “naik”, sering dikaitkan dengan hal-hal yang prestisius seperti derajat, jabatan, dan tahta. Semua itu dapat diraih tentu dengan perjuangan panjang dan jerih payah ekstra, bukan datang secara instan tanpa sebab. Di sinilah, Islam mengajarkan manusia agar selalu bekerja keras, bahkan rasul dan nabipun tidak ada yang gratis mendapatkan predikat kerasulan dan kenabian. Berbagai ujian menghadang untuk meruntuhkan misi yang dibawanya, ujian yang datang bertubi-tubi mereka lawan dengan keteguhan dan kesabaran, akhirnya sukses.
Demikian juga seorang muslim yang ingin ditinggikan derajatnya oleh Allah, dia mesti melalui proses panjang berliku, untuk menundukkan hawa nafsu dan mengabdi pada perintah, seperti menegakkan shalat. Rasululullah mengintrodusir shalat sebagai “mi’raj al-mukmin” (perjalanan spiritual mukmin menuju Tuhan). Shalat hanyalah salah satu entry point menuju tatanan hidup yang tenteram dan berujung pada ridla Allah (baldah thayyibah wa rabbun ghafur). Dengan shalat manusia diharapkan mampu meredam nafsu hewaniah dan iblisiyah serta lebih mengedepankan naluriah dan nalariah, saat berinteraksi dengan sesama manusia agar tidak ada lagi kemungkaran, korupsi, kekerasan, penggunaan narkoba. Hubungan antara shalat dengan amar ma’ruf nahi munkar adalah hubungan sinergis bukan kausalitas. Tidak ada jaminan orang yang shalat, tidak melakukan kekerasan, sama halnya tidak jaminan orang yang menunaikan ibadah, bebas dari korupsi. Fungsi shalat sebatas memberikan trigger (pemicu) untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan kata lain, orang yang sudah punya modal kebaikan lewat shalat harus berkomitmen kembali melakukan amar ma’ruf nahi munkar secara dinamis dan berkesinambungan.
Di samping ada hikmah yang bisa digali dari kajian morfologis isra’ mi’raj, kita juga bisa belajar dari rahasia urutan kata isra yang diikuti mi’raj. Seyogyanya manusia mendahulukan aspek horizontal (hablum min annas) lalu aspek vertikal (hablum min allah). Dalam fenomena keseharian, banyak dijumpai orang yang lebih menekankan mi’raj (hubungan vertikal dengan Tuhan) dengan melakukan banyak ibadah sampai pada batas ekstrim, sementara tuntutan isra’ (hubungan horizontal dengan sesama manusia) belum terpenuhi. Akibatnya, kekerasan yang dilakukan oknum pemeluk umat beragama tidak jarang justru dijadikan pretensi sebagai sebuah kesalehan dan tingginya kualitas iman, adapun keramahan dan ke-rahmah-an (kasih sayang) sesama makhluk tuhan, nyaris terabaikan.
Agama pada prinsipnya menuntut keseimbangan antara kesalahan sosial dengan kesalehan individual guna merealisasikan sukses dunia dan akherat. Bahkan, hasil penelitian yang dilakukan Jalalaluddin Rakhmat (1991) menyimpulkan bahwa kesalehan sosial harus lebih diprioritaskan, dengan alasan: (1) dalam al-Qur’an dan As-Sunnah proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial, (2) dalam kenyataannya bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan, (3) ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan, dan (4) bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, maka kafarat nya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Saatnya semangat isra’ mi’raj menggelinding layaknya bola salju membawa energi maha dahsyat guna menyapu habis ketidakadilan, korupsi, kekerasan, kemusrikan, otoritarian, hipokrit, sehingga bangsa Indonesia cepat bangkit menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.
Kedatangan
Kedatangan
Hari pertama
Hari ini aku datang kepadamu
kubawakan segenggam janji
Kau buka pintu rumah , menongok ke luar
Yang tersaji senyum bisu, tanpa menyilakan
Hari kedua
Esoknya aku datang lagi kepadamu
Kali ini aku datang dengan berbagai keluhan ditanganku
Kau buka pintu dan menongok lagi seperti kemarin
Tapi tetap senyum bisu yang kau lemparkan dan tetap tanpa menyilakan
Aku berjalan pulang
Menunduk mukaku ketanah
Berputar dalam anganku
Semesta pertanyaan yang kau berikan dengan senyummu
Hari keenam
Hari ini aku berjalan kerumahmu
Dengan jalan yang sama seperti yang lalu
Namun tak kubawa apapun sekarang
Hanya keinginan untuk bertemu denganmu
Ku ketuk pintu, seperti yang lalu
Seperti biasa, kau buka pintu itu
Menatapi kedua tanganku,
Lalu tubuhku,
Lalu mataku, beberapa waktu
Meresap jauh ke belukar-belukar dalam benaku
Ah,,akhirnya kau berucap juga
Tak seperti yang lalu
Merekah senyum semerah mawar di wajahmu
Suara lembut membelaiku masuk kerumahmu
Menyilakanku duduk di kursi-kursi empukmu
Menjamuku layaknya pelancong dari negeri seberang
Serentak seluruh pertanyaan semesta yang lalu
Terjawab satu-persatu
Terukir salam dari Qolbu ku,,
Berkata :
Andai yang lalu hanya aku yang kau bawa
Maka cukuplah bagi tuan rumah itu
Untuk tersenyum kepadamu
Untuk menyilakan, dan menjamu-mu di dalam rumahnya
NB: untukmu ibu dengan setulus cintaku untukmu….dengan tak berdayanya aku dalam kandunganmu…Kini telah kutetapkan pilihan-pilihan itu…dengan kaki ini aku akan melangkah,,,,sungguh aku masih anak ibu.
Hari pertama
Hari ini aku datang kepadamu
kubawakan segenggam janji
Kau buka pintu rumah , menongok ke luar
Yang tersaji senyum bisu, tanpa menyilakan
Hari kedua
Esoknya aku datang lagi kepadamu
Kali ini aku datang dengan berbagai keluhan ditanganku
Kau buka pintu dan menongok lagi seperti kemarin
Tapi tetap senyum bisu yang kau lemparkan dan tetap tanpa menyilakan
Aku berjalan pulang
Menunduk mukaku ketanah
Berputar dalam anganku
Semesta pertanyaan yang kau berikan dengan senyummu
Hari keenam
Hari ini aku berjalan kerumahmu
Dengan jalan yang sama seperti yang lalu
Namun tak kubawa apapun sekarang
Hanya keinginan untuk bertemu denganmu
Ku ketuk pintu, seperti yang lalu
Seperti biasa, kau buka pintu itu
Menatapi kedua tanganku,
Lalu tubuhku,
Lalu mataku, beberapa waktu
Meresap jauh ke belukar-belukar dalam benaku
Ah,,akhirnya kau berucap juga
Tak seperti yang lalu
Merekah senyum semerah mawar di wajahmu
Suara lembut membelaiku masuk kerumahmu
Menyilakanku duduk di kursi-kursi empukmu
Menjamuku layaknya pelancong dari negeri seberang
Serentak seluruh pertanyaan semesta yang lalu
Terjawab satu-persatu
Terukir salam dari Qolbu ku,,
Berkata :
Andai yang lalu hanya aku yang kau bawa
Maka cukuplah bagi tuan rumah itu
Untuk tersenyum kepadamu
Untuk menyilakan, dan menjamu-mu di dalam rumahnya
NB: untukmu ibu dengan setulus cintaku untukmu….dengan tak berdayanya aku dalam kandunganmu…Kini telah kutetapkan pilihan-pilihan itu…dengan kaki ini aku akan melangkah,,,,sungguh aku masih anak ibu.
AKU
AKU
Aku dari bagian terkecil ku
Aku atas penguasaku
Aku dari bagian semestaku
Aku bagian yang tak dapat dimengerti
Meggurat-gurat ke-akuanku
Dari bagian terdalam
Rumah-rumah tak bertuan
Di atas tanah-tanah asing
Terlantar di jalan-jalan tak beraspal
Terjajah ?
Iya, Aku terjajah..
Ku bunuh Ke-Akuanku,,
Simbol keterbatasanku
Tanda penyerahan logikaku
Dalam kuasa tak ada daya..
Aku dari bagian terkecil ku
Aku atas penguasaku
Aku dari bagian semestaku
Aku bagian yang tak dapat dimengerti
Meggurat-gurat ke-akuanku
Dari bagian terdalam
Rumah-rumah tak bertuan
Di atas tanah-tanah asing
Terlantar di jalan-jalan tak beraspal
Terjajah ?
Iya, Aku terjajah..
Ku bunuh Ke-Akuanku,,
Simbol keterbatasanku
Tanda penyerahan logikaku
Dalam kuasa tak ada daya..
Langganan:
Postingan (Atom)